Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Pengalaman Pribadi Mendaki Gunung Burangrang Via Legok Haji

Gunung burangrang adalah salah satu gunung yang terletak di jawa barat yang sering menjadi tujuan para pendaki. Gunung yang terletak di perbatasan kota bandung, cimahi dan purwakarta ini mempunyai ketinggian 2064 MDPL. gunung burangrang sendiri memiliki 3 jalur pendakian yaitu jalur pangheotan, jalur desa lawang angin atau sering disebut jalur komando karena memang jalur ini adalah jalur khusus untuk latihan militer anggota TNI. jalur yang lainnya lagi yaitu jalur legok haji umumnya jalur inilah yang sering digunakan para pendaki.

Kata beberapa teman saya yang sudah berpengalaman dalam hal mendaki gunung, gunung burangrang adalah gunung yang cocok untuk para pemula yang baru pertama kali mendaki gunung. Karena ketinggian gunung ini yang masih aman untuk pemula dan medan yang masih bisa dibilang aman.
Mendaki Gunung Burangrang Via Legok Haji
Puncak gunung burangrang

Pengalaman Pribadi Mendaki Gunung Burangrang Via Legok Haji

Nah pada postingan ini saya akan berbagi pengalaman pribadi saya saat mendaki gunung burangrang via legok haji. Semua berawal pada saat beberapa dari teman saya yang mungkin sudah mulai jenuh dengan kegiatan bersepeda dan ingin mencoba hal lain tapi masih berkaitan dengan hutan, adventure dan beberapa hal lain yang intinya adalah kegiatan outdoor yang bikin capek wkwk.

Ok semua serba dadakan. Sehingga peralatan yang diperlukan belum disiapkan. Terlebih lagi saya memang sebenarnya tidak punya peralatan itu. Hampir semua alat-alat untuk mendaki dan camping seperti tas, sepatu gunung, sleeping bag, matras, tenda, cooking set, lampu senter dan lain-lain saya menyewanya. Saya pikir karena saya jarang muncak, belum tentu sebulan sekali buat apa saya harus memiliki semuanya.

Tapi untungnya ada teman saya juga sebut saja bang gatot, orang asli jakarta yang sedang bekerja di bandung yang hobi muncak sehingga dia mempunyai peralatan yang lebih lengkap sehingga saya hanya tinggal menyiapkan peralatan yang akan saya pakai sendiri seperti sepatu gunung, lampu senter, sleeping bag dan matras. Karena peralatan lain seperti tenda, cooking set, kompor dan gas serta alat-alat pendukung lainnya cukup satu saja karena akan digunakan bersama-sama.
Mendaki Gunung Burangrang Via Legok Haji
Foto bareng

Kita janjian untuk bertemu di basecamp pendakian gunung burangrang di daerah legok haji. Singkat cerita, jam 8 malam kita sudah sampai dan bertemu mereka di basecamp. Lalu dilanjutkan dengan registrasi, membayar tiket simaksi dan menitipkan kartu identitas seperti KTP, SIM dan lain-lain. nantinya, untuk mengambil kartu identitas itu kita harus menukar sampah kita. jadi sampah kita harus kita bawa lagi kebawah saat turun gunung.

Kata bang gatot untuk mendirikan tenda dan camping kita lebih baik di basecamp saja. Selesai mendirikan tenda, makan lalu istirahat, Nanti tepat jam 2 malam kita akan mulai melakukan perjalanan menuju puncaknya. Saat saat akan mulai perjalanan bawa peralatan seperlunya saja untuk dipuncak nanti seperti makanan, senter, kompor, cooking set dan air yang banyak untuk di perjalanan dan ngopi di atas nanti.

Dalam istilah pendakian ada yang namanya tektok. Tektok adalah perjalanan menuju puncak gunung tanpa ngecamp di puncaknya. Jadi kita hanya berjalan menuju puncak, sampai puncak ngopi bentar, poto-poto lalu turun lagi.

Jam 2 malam kita pun bersiap melakukan perjalanan menuju puncak. Tenda dan peralatan yang tidak diperlukan kita tinggalkan di basecamp. Di sini aman kok terbukti pada saat kita turun tenda dan peralatan yang ada di dalam tenda utuh, tidak kurang dan tidak ada yang hilang. Estimasi perjalanan menuju puncak burangrang adalah sekitar 4-5 jam.

Dalam perjalanan, kita jalan santai, perlahan dan tidak terburu-buru. Kita harus terus bergerak karena dengan terus bergerak tubuh kita akan hangat sampai mengeluarkan keringat dan mampu mengalahkan hawa dingin. Sesekali kita juga harus beristirahat untuk minum. Dalam istirahat lebih baik jangan terlalu lama karena suhu tubuh akan menurun dan keringat yang keluar dari tubuh akan menjadi dingin khawatir hipotermia. Jadi lebih baik berjalan saja terus tapi tidak usah terburu-buru yang penting terus bergerak, istirahat sesekali dan jangan terlalu lama agar suhu tubuh tidak menurun drastis.

Tracking malam seperti ini menurut saya sangat memacu adrenalin. Saya sendiri kalau muncak lebih suka tracking malam.

"Ditengah hutan tengah malam begitu apa nggak takut ketemu hantu mas"

Sebenarnya ada sih perasaan seperti itu. Setiap gunung pasti mempunyai cerita mistis. Tapi jujur saja setiap saya muncak dan melakukan perjalanan malam saya tidak sempat memperhatikan hal-hal seperti itu karena kita pasti akan sibuk dan fokus memperhatikan jalan dan track yang terjal dan curam. Ya kalau "mereka" memperhatikan kita sih saya nggak tahu ya kan kita nggak bisa melihat mereka hehe. Yang penting tetap fokus, tetap berpikir positif, jangan punya niat buruk, jangan punya sikap sombong, sok berani, sok jago, jangan kosong pikiran, saling menjaga satu sama lain dan tetap ingat sama Tuhan.

Sebenarnya, pada saat perjalanan malam yang harus kita waspadai adalah hewan-hewan nokturnal seperti babi hutan, ular dan lain-lain. Pada saat perjalanan malam karena malam yang sunyi berbagai macam suara selain suara angin pasti akan terdengar. Suara langkah kaki, suara ranting terinjak, suara semak dan lain-lain akan jelas terdengar. Berpikir positif saja mungkin itu hewan-hewan nokturnal yang sedang beraktifitas mencari makanan. Ingat jangan sampai pikiranmu terganggu dengan hal-hal aneh. Jangan terlalu menimbulkan kegaduhan karena dikhawatirkan kamu diikuti oleh hewan liar tapi juga jangan diam saja agar suasana tidak mencekam sesekali ajaklah kawanmu mengobrol agar perjalanan menuju puncak tidak terasa lama.

Sekitar jam setengah 6 pagi akhirnya kita sudah sampai puncak. Selain sunrise, terlihat juga lautan awan dan juga berbagai macam suara burung yang bersahutan dan suara monyet di pepohonan terdengar keras. Entah mereka sedang membicarakan apa mungkin mereka sedang membangunkan teman-temannya hihi. Kita pun beristirahat tidak lupa secangkir kopi yang baru saja diseduh tapi sudah dingin lagi.
Mendaki Gunung Burangrang Via Legok Haji
Bukti kalau sampai puncak

Tepat jam 8 pagi, sinar matahari sudah semakin terang. Kehangatannya mulai terasa tapi tetap saja belum mampu mengalahkan hawa dinginnya puncak gunung burangrang. Kita memutuskan untuk turun gunung. Packing lagi peralatan yang baru saja dipakai dan tidak lupa membersihkan sampah lalu kita bawa kembali ke bawah. Perjalanan turun memang terasa lebih cepat tapi kesulitan dan lelahnya sama saja seperti saat naik. Track terjal yang sulit didaki pasti juga sulit untuk dituruni. Setelah 3 jam perjalanan turun akhirnya kita sampai ke tenda yang ada di basecamp. Sebelum pulang kita harus membongkar tenda, packing lagi dan memastikan tidak ada satupun barang yang tertinggal.

Bagi para pendaki khususnya pendaki yang berada di jawa barat, gunung burangrang pasti sudah tidak asing lagi. Bahkan tidak jarang juga diperjalanan saya bertemu dengan pendaki yang berasal dari luar kota seperti jakarta, tangerang, cirebon dan pasti banyak lagi. Buat kamu yang baru menekuni hobi mendaki gunung, gunung burangrang bisa kamu jadikan pendakian yang pertama sebelum kamu mulai mendaki gunung-gunung yang lain yang lebih tinggi dan extream tracknya. Sekian cerita pengalaman pribadi kali ini semoga bermanfaat.
Ekopriantoblog.id
Ekopriantoblog.id Seorang blogger yang tulisannya asal-asalan. Pecinta pencak silat tapi bukan tukang pukul. Penikmat musik indie khususnya endank soekamti.

Post a Comment for "Pengalaman Pribadi Mendaki Gunung Burangrang Via Legok Haji"