Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Pengalaman Pribadi Memacu Adrenalin Dengan Bersepeda di Gunung

Fenomena gowes atau bersepeda akhir-akhir ini memang sangat booming. Apalagi pada saat awal-awal pandemi, sepeda menjadi alat transportasi yang sangat diminati. Mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak dan juga orang dewasa hampir semua orang memiliki sepeda, baik itu sepeda low end ataupun sepeda high end.

Karena trend sepeda yang naik daun inilah akhirnya harga sepeda melejit naik termasuk harga spare partnya. Kita ambil contoh saja misalnya harga sepeda polygon xtrada 6, harga normalnya yaitu sekitar 7 juta rupiah, karena sedang trending harga naik menjadi 8-9 juta rupiah.

Saya sendiri sebenarnya sudah akrab dengan sepeda sudah sejak lama. Jauh sebelum sepeda trending seperti kemarin saya sudah sering bersepeda dan memodifikasinya. Tapi karena spare part sepeda yang ikut naik dan naiknya ini menurut saya sangat keterlaluan hobi ngoprek dan memodifikasi sepeda jadi berhenti karena terkendala dana.
Bersepeda si gunung
Bersepeda di gunung

Pengalaman pribadi memacu adrenalin dengan bersepeda di gunung

Saya sendiri adalah penyuka sepeda gunung. Yang namanya sepeda gunung tentu saja habitat aslinya di gunung. Walaupun tidak ada yang melarang juga kalau sepeda gunung dipakai di jalan raya hehe.

Bagi saya, ada keseruan dan kenikmatan tersendiri saat bersepeda di gunung. Kita bisa menguji kekuatan kaki kita di tanjakan yang entah dimana puncaknya, kita juga bisa memacu adrenalin di jalur setapak menurun di lereng-lereng bukit atau gunung istilah kerennya downhill, tersesat ditengah hutan karena tidak tahu jalur atau karena jalur buntu, terperosok ke semak-semak karena terlalu kencang dan hilang keseimbangan atau rela berkotor-kotor ria karena terpeleset dan terjatuh ke lumpur karena walaupun kemarau di hutan akan selalu ada tanah yang basah entah karena sungai atau rembesan mata air.
Bersepeda si gunung
Berani kotor itu baik

Untuk bersepeda di gunung kita harus menggunakan sepeda gunung atau istilah kerennya MTB (mountain bike) yang mempunyai spesifikasi dan spare part khusus seperti ban trail, rims/velg tapak lebar, rem hidrolik, suspensi belakang, fork, handlebar yang panjang dan stem yang pendek. Jika perlu, sprocket/gir belakang kita ganti juga dengan yang mempunyai gigi lebih banyak supaya saat menanjak kayuhan jadi lebih ringan. Tapi menurut saya itu tidak terlalu penting juga karena kebanyakan para pecinta downhill, mereka menyewa mobil untuk mengangkut sepeda-sepedanya menuju tujuan jadi tidak perlu capek-capek gowes menghadapi tanjakan hihihi.

Bekal makanan, minuman, perlengkapan keamanan dan tools kit

Selain sepeda yang mumpuni, para pecinta downhill juga harus membawa perbekalan yang lengkap. Makanan dan minuman harus cukup untuk selama nanti di hutan karena hutan tidak ada yang jualan. Kalau sampai kita kelaparan dan kehausan di hutan akan sangat bahaya jadinya. Selain masalah perut kita juga tidak boleh melupakan perlengkapan keamanan diri. Helm full face, goggles atau pelindung mata, buff atau masker,sarung tangan, sepatu, pelindung lutut, pelindung siku dan p3k harus senantiasa dipakai. Utamakan keamanan atau kalau kata orang jawa itu safety first hehe.

Masalah perut sudah, masalah keamanan sudah jangan lupa juga nih perlengkapan sepeda dan tools kit. Karena walaupun sepeda sudah kita persiapkan jauh-jauh hari dan sudah siap tempur, tapi setelah kita siksa di jalanan pegunungan yang terjal pasti akan ada saja masalah atau insiden. Seperti ban bocor lah, rantai putus lah dan masih banyak lagi. Karena itu kita harus siap sedia peralatannya agar bisa diperbaiki pada saat itu juga. Kunci L lengkap, kunci crankset, tang, kunci rantai, obeng, pompa angin mini, ban dalam cadangan dan peralatan tambal ban mini harus siap sedia di dalam tas.
Bersepeda si gunung
Keluar masuk hutan

Hutan adalah pelarian

Bagi para pecinta downhill dan juga bagi sebagian orang menganggap hutan adalah pelarian. Pelarian dari udara kota yang kotor dan berdebu sedangkan di hutan kita bisa menghirup udara yang bersih dan segar, pelarian dari macetnya jalanan kota sedangkan di hutan kita bisa kebut-kebutan tanpa ada macet, pelarian dari penatnya suasana kerja sedangkan di hutan kita bisa menikmati pepohonan yang tinggi, bertemu teman, makan bersama teman di hutan, bersenda gurau dan tertawa bersama. Tapi kita juga harus tetap menjaga adab dan sopan santun saat dihutan dan tidak lupa juga untuk tetap menjaga kelestariannya.

Ya itu dia sedikit cerita dan intermezzo tentang hobi saya bersepeda di gunung. Nanti kalau ada kesempatan akan saya tulis juga pengalaman pribadi saya saat downhill lengkap dengan informasi lokasi, karakteristik trek, dan kejadian-kejadian saat kebut-kebutan melewati jalan setapak menurun di gunung see you next post.
Ekopriantoblog.id
Ekopriantoblog.id Seorang blogger yang tulisannya asal-asalan. Pecinta pencak silat tapi bukan tukang pukul. Penikmat musik indie khususnya endank soekamti.

4 comments for "Pengalaman Pribadi Memacu Adrenalin Dengan Bersepeda di Gunung"

  1. wah pastinya medannya lebih ebrat kalau naik gunung. duh serem ya. butuh keseimbangan apalagi kalau ada juarng. kalau aku kayaknya mah gak berani

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang kak...adrenalin akan terpacu,,,tapi banyak juga lho kak goweser perempuan yang suka downhill digunung

      Delete
  2. saya setiap hari bersepeda gan, selain menjaga kesehatan, bersepeda merupakan hobi saya, hanya saja sayangnya saya gak ada teman untuk di ajak bersepeda, akhirnya bersepeda sendirian saja, sambil lalu menjadi kesehatan dimasa pandemi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya nyari temen gowes juga tadinya digrup fb mas...

      Delete