Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

IPNU: Tidak Aksi Tapi Ngabdi

Sudah 66 tahun yang lalu IPNU didirikan, tepat tanggal 24 Februari 1954 di Semarang. Sampai saat ini tidak sebagai organisasi yang berfokus pada politik, khususnya politik praktis. IPNU didirikan sebagai organisasi kekaderan, keterpelajaran. Jadi tidak ada ceritanya IPNU ikut aksi dalam setiap kebijakan pemerintah yang dirasa menyeleweng dan tidak menyejahterakan rakyat.

Maka dari itu, keterfokusan IPNU dalam pengkaderan terhadap pelajar menjadikan titik tumpu output-nya kepada pengabdian. Tujuannya adalah menjadi garda terdepan pengkaderan di tubuh Nahdlatul Ulama agar dapat meneruskan perjuangan para Ulama-Ulama NU. Hal ini tidak bisa dipungkiri, karena secara khittah, IPNU memang digariskan sebagai organisasi kekaderan dan keterpelajaran.

Walaupun IPNU pernah diisukan menjadi underbow NU pada masa pemilihan umum tahun 1955, yang pada waktu itu NU mendapat urutan ketiga, padahal NU masih perdana dalam ikut serta terkait politik praktis tersebut. Sehingga hal itulah yang membuat IPNU mendeklarasikan bahwa ia kembali ke Khittah 1954-nya.

IPNU: TIDAK AKSI TAPI NGABDI

IPNU: Tidak Aksi Tapi Ngabdi
IPNU: Tidak Aksi Tapi Ngabdi

IPNU tidak akan pernah ikut serta dalam kegiatan aksi (demonstrasi), walaupun itu terjadi, ada kemungkinan oknum di dalamnya lah yang berupaya, tetapi juga ada kemungkinan karena kebijakan-kebijakan pemerintah yang memang sudah berat, dalam arti, kebijakan-kebijakan tersebut berdampak besar pada kesengsaraan rakyat. Tanpa terjadinya kemungkinan tersebut Tugas IPNU sesungguhnya ialah ngabdi. 

Tidak mungkin NU dengan seiring berkembangnya zaman dan usia para pengurusnya, hanya mereka yang mengurus NU, mereka membutuhkan pengganti yang tepat, yang mengikuti proses dalam setiap jenjang kaderisasi yang ditawarkan oleh badan otonom NU ini, yaitu IPNU. Hal ini sebagai bentuk regenerasi bagi NU untuk terus eksis dan dapat memberikan kontribusi kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tanpa aksi, IPNU tetap lestari. Dan dengan mengabdi, IPNU semakin gemah ripah loh jinawi. IPNU selalu ada untuk negeri, tidak hanya untuk NU sendiri. Dalam AD/ART disebutkan bahwa tujuan IPNU yaitu memiliki kesadaran dan tanggungjawab terhadap terwujudnya tatanan masyarakat yang berkeadilan dan demokratis atas dasar ajaran islam ahlus sunnah wal jamaah.

Jika organisasi lain beraksi dengan demonstrasi, IPNU berdemo dengan trilogi, yaitu Belajar, Berjuang, dan Bertakwa.

1# Belajar

IPNU merupakan sebuah wadah bagi pelajar-pelajar NU untuk belajar. Pembelajaran yang terdapat dalam IPNU ini merupakan sebuah proses yang harus dijalani sebagai bentuk proses dari kaderisasi.

2# Berjuang

Seorang IPNU memiliki mandat atau tanggungjawab di pundaknya. Mereka dengan mandatnya tersebut memiliki tanggungjawab untuk selalu berjuang untuk mewujudkan kemaslahatan masyarakat yang adil dan makmur.

3# Bertakwa

Kader-kader IPNU dalam setiap langkah prosesnya merupakan bentuk ibadah ghairu mahdlah. Sehingga dengan segala proses tersebut menjadikannya menuju ridlo Allah Swt., tujuannya tak lain dan tak bukan hanya untuk bertakwa kepada Allah Swt.

Jadi, IPNU tidak perlu melakukan atau ikut-ikutan Aksi sebagaimana organisasi kepemudaan lainnya. Pengabdiannya sudah merupakan aksi dalam rangka perjuangan. Perjuangan untuk NU khususnya, dan pada umumnya pasti untuk Indonesia. Seorang Rekan (panggilan bagi kader IPNU) hanya terus berproses dalam setiap kaderisasi-kaderisasinya. Kaderisasi formal, informal, dan non formal.

Walaupun tanpa politik praktis, IPNU tetap harus melek politik praktis. Lebih-lebih IPNU melakoni politik strategis, walaupun tidak memiliki kedudukan, suara IPNU dipertimbangkan oleh banyak pihak ataupun organisasi lainnya. Hal ini dilakukan selain agar IPNU tetap eksis, IPNU juga menjadi ikon pemuda dalam tubuh NU dan dipandang sebagai organisasi yang tidak main-main. Apalagi dikotomi dengan redaksi “mahasiswa”.

Kader-kader IPNU harus gegap gempita dalam pengabdian. “Berlomba-lomba dalam kebaikan”. Penulis transformasikan dengan “Berlomba-lomba dalam Pengabdian”. Arti berlomba-lomba di sini bukan kompetisi ataupun persaingan, melainkan rasa penuh kesadaran dari kader IPNU untuk terus melanjutkan perjuangan NU di ranah pemuda ataupun pelajar, guna memberikan kontribusi bagi NU dan Indonesia, serta berusaha untuk menjadi penggerak di wilayah masing-masing kader untuk mendedikasikan diri.

Dulu pendiri IPNU, KH. Tholchah Mansoer ditakuti oleh rezim Orde Baru, sekarang yang harus terjadi adalah pemerintah takut ketika IPNU tidak memberikan kontribusi bagi negeri. Dan ketakutan tersebut tidak akan pernah terjadi, karena dalam setiap langkahnya, perbuatannya, IPNU walaupun tidak ikut aksi, IPNU tetap mengabdi. Tanpa aksi IPNU tetap lestari, dan dengan mengabdi, IPNU lebih gemah ripah bloh jinawi.

Guest post dari: www.candradimukadigital.xyz

Post a comment for "IPNU: Tidak Aksi Tapi Ngabdi"